Minggu, 23 November 2014

love first sight 3



Akhirnya hujan sore ini sudah agak reda. Kalau tidak, mungkin aku akan terjebak di kelas sendirian sambil menulis diary-ku dan terkena penyakit galau sepanjang sore. Menulis diary sendirian ditemani oleh hujan bukanlah sebuah cara yang tepat untuk segera melupakan seseorang.
Aku berjalan menyusuri jalan pulang ke rumah, melewati beberapa toko-toke kecil. Terus berjalan sambil menikmati bau tanah bekas hujan sore ini. Aku terus memandang ke arah toko-toke kecil pinggir jalan yang rupanya sudah lama tidak dipakai. Toko tersebut terlihat kumuh, ada beberapa gelandangan yang menumpang berteduh di sana—mayoritas adalah anak-anak kecil. Wajah mereka sangat lusuh, pakaiannya kotor dan sobek. Ada beberapa anak yang memasang wajah ceria dan bermain bersama teman-temannya, tetapi mataku sekarang terfokus kepada seorang perempuan kecil yang kira-kira umurnya 6-7 tahun yang sedang duduk di pinggiran toko sendirian. Wajahnya terlihat murung. Aku segera menghampirinya. “Hai.” Sapaku sambil tersenyum dan jongkok di depannya.
Gadis kecil itu hanya menatapku sekilas dan tak berkata apa pun.
Aku sesegera mungkin mengambil sesuatu di dalam tasku, dan saat itu pula aku baru tersadar bahwa diary-ku tertinggal di sekolahan. Shit. Apa aku harus mengambilnya ke sekolah? Aku rasa tidak perlu. Toh sore-sore begini tidak ada yang akan mengambilnya. Aku menatap anak kecil tersebut lalu mengambil satu batang coklat yang aku temukan di lokerku siang tadi dari tasku. “Kamu mau ini?” tanyaku sambil tersenyum dan mengulurkan tanganku.
Gadis kecil itu hanya mengamati coklat tersebut, lalu mengambilnya. “Terima kasih.”
Aku tersenyum. Lalu bertanya, “siapa namamu?”
“Vera.” Jawabnya sambil memakan coklat tersebut.
“Kenapa kamu nggak gabung sama temen-temen kamu?”
“Mereka jahat. Mereka mengambil bunga hasil mengamen yang seharusnya aku berikan kepada ibu. Mereka menertawakanku kenapa aku meletakkannya di atas batu nisan kuburan ibu.” Jawab Vera tanpa berhenti mengunyah coklatnya.
Aku termenung. Aku teringat tentang bunga mawar putih yang ada di loker tadi siang. Kebetulan hari ini aku merasa aku ingin sekali membawa bunga mawar putih itu pulang, tidak seperti bunga lainnya yang aku buang ke tong sampah. Aku  memang menyukai bunga mawar putih itu, tapi Vera mungkin akan lebih senang jika aku memberikannya untuknya. Aku membuka tasku, lalu mengulurkan bunga mawar putih itu pada Vera. “Untuk kamu.”
Vera tersenyum. “Untuk aku?” Tanpa ragu ia mengambil bunga tersebut.
“Jangan sedih lagi,” ucapku sambil tersenyum.
Aku hanya diam sambil mengamati Vera. Vera masih sangat terlalu kecil. Tempat yang pantas untuknya bukanlah jalanan, namun sekolah. Aku mengambil satu batang ranting yang berada tidak jauh dari tempatku berjongkok, lalu menulis angka 1-10 di tanah hitam bekas hujan sore ini. “Kamu tahu ini angka berapa?”
Vera menggelengkan kepalanya.
Aku tersenyum. Lalu aku mulai mengajarinya.
**
“Jadi, udah tahukan 4 + 4 hasilnya berapa?”
Aku menoleh saat sebuah suara jepretan kamera terdengar  dari belakang. Aku kaget. Max. “Loh, kok kamu ada di sini? Motret aku ya?”
Max tersenyum. “Nggak sengaja,” jawabnya acuh tak acuh. “Kamu ngapain bawa ranting kayak gitu terus nulis angka-angka nggak jelas?”
“Kok kepo? Ngajarin anak kecil nih. Namanya Vera.” Ucapku sambil memperkenalkan Vera pada Max.
“Halo Vera.” Sapa Max sambil tersenyum dan melambaikan tangan.
Vera hanya diam saja dan menatap Max dengan tatapan aneh. Rasanya aku ingin tertawa.
Max mengamati bunga mawar putih yang Vera bawa dengan tatapan bingung. “Itu, bunga mawar putih, dari kamu Fi?” tanya Max.
“Kalo iya kenapa?”
“Kenapa kamu bawa pulang? Aku pikir kamu buang ke tong sampah.” Ucap Max sambil mengangkat salah satu alisnya.
“Aku suka aja sama bunga mawar putih,” Jawabku sambil tersenyum. “Dan ternyata nggak cuma aku doang yang suka mawar putih. Vera juga.”
**
Hari yang melelahkan. Diary pake ketinggalan di sekolah lagi.
Aku meletakkan tasku di tempat tidur. Lalu menatap wajahku di kaca. Rambut hitamku berantakkan. Terlihat lesu seperti biasa. Ya, akhir-akhir ini aku memang terlihat lesu.
Aku mulai membandingkan diriku dengan Yosie. Yosie memang  cantik, selalu ceria. Tidak sepertiku. Yosie yang aktif kegiatan sekolah, pintar, dan.. dan yang pasti Yosie dan aku adalah spesies yang berbeda. Apa aku harus berubah menjadi Yosie? Astaga. Aku jadi teringat aku menuliskan kata-kata ini di diaryku yang tertinggal di sekolah. Shit.
**
Aku berjalan melalui gerbang sekolah seperti biasanya. Matahari lumayan bersinar cerah hari ini, namun tidak secerah suasana hatiku.
Aku mulai melalui lorong sekolah. Dan aku bertanya-tanya kenapa semua orang hari ini menatapku dengan tatapan aneh. Ada apa denganku? Aku tidak seperti Yosie? Tentu saja.
Aku mengamati gerombolan anak yang sedang mengamati mading sekolah. Dan saat aku melalui gerombolan itu, beberapa anak sempat meneriakan namaku. “Eh ada Fiona tuh.” “Dia udah tahu belum ya?” “Kasian, tapi kok ya dia kayak gini.”
“APAAN SIH?” bentakku kepada beberapa anak yang mengumpul di mading. Aku mendorong beberapa anak untuk dapat melihat isi mading sekolah. SHIT. Aku kaget. Siapa yang melakukan ini semua?
Beberapa potongan diary-ku yang tertinggal di sekolah, sekitar 10 lembar.. terpampang di mading sekolah. Yang paling membuatku marah adalah judul mading sekolah hari ini adalah : “KETIKA FIONA BELUM BISA MOVE ON DARI DERREN...” di 10 lembar halaman diaryku itu bertuliskan tentang aku yang masih menyukai Derren, tentang aku yang masih suka melihat Derren dari jauh, tentang aku yang merasa ingin merubah diriku, tentang aku yang iri dengan Yosie.
“HAHAHAHA!” suara tawa menyeramkan datang dari arah belakang. Aku menoleh. Yosie. “Gimana, Fi?”
Aku marah. Aku benar-benar marah. Apalagi aku melihat Derren berdiri di samping Yosie, walaupun raut wajah Derren tidak menunjukan wajah senang. Aku tak bisa memperdiksi wajah Derren. Tapi rasanya sekarang aku ingin berlari dan menangis....... dan aku memang melakukannya.
**
Aku menangis di taman sekolah sebelum pelajaran dimulai. Aku rasanya ingin keluar dari sekolah ini. Aku memang sudah tidak punya muka. Apakah kamu tahu rasanya saat kau belum bisa melupakan rasa sakit hatimu ditinggal seseorang dan semua orang menertawakanmu? Aku tahu.
Tiba-tiba seseorang menjulurkan tangannya dengan sebuah tisu digenggaman. Lagi-lagi Max. Kenapa ia selalu muncul tiba-tiba?
Aku mengambil tisu dari genggamannya. Aku tak ingin bicara. Tidak ingin. Mungkin Max sudah tahu mengenai mading sekolah, dan mungkin sekarang ia ingin menertawakanku. Tertawa saja. Tertawakan.
7 menit kemudian...
Ia tak tertawa. Oh, aku salah. Tapi tidak ada percakapan di antara kami saat itu. Mungkin ia terlalu sibuk melihatku menangis. Tapi ia masih... di sini. “Apa yang kamu mau?” tanyaku pada akhirnya.
Max menoleh ke arahku, lalu berkata. “Hanya memberimu sesuatu, dan ingin berkata bahwa kamu jangan bersedih. Seperti apa yang kamu katakan kepada anak kecil kemarin.”
**
Hari ini aku tidak ingin melihat Derren. Tapi kenyataannya aku melihatnya.
Dia dengan jaket abu-abunya. Entahlah apa reaksinya saat kejadian pada mading sekolah kemarin. Aku rasanya ingin menendang wajahnya.
 Aku sakit hati, tapi gengsi. Aku malu, tapi aku rindu.
Aku melihatnya di kantin sekolah, saat itu aku sedang duduk bersama Klara dan Jesica. Derren hanya menatapku beberapa detik, lalu membuang muka.
Oh, Derren. Aku membencimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar