Akhirnya hujan sore ini sudah
agak reda. Kalau tidak, mungkin aku akan terjebak di kelas sendirian sambil
menulis diary-ku dan terkena penyakit galau sepanjang sore. Menulis diary
sendirian ditemani oleh hujan bukanlah sebuah cara yang tepat untuk segera melupakan
seseorang.
Aku berjalan menyusuri jalan
pulang ke rumah, melewati beberapa toko-toke kecil. Terus berjalan sambil
menikmati bau tanah bekas hujan sore ini. Aku terus memandang ke arah toko-toke
kecil pinggir jalan yang rupanya sudah lama tidak dipakai. Toko tersebut
terlihat kumuh, ada beberapa gelandangan yang menumpang berteduh di sana—mayoritas
adalah anak-anak kecil. Wajah mereka sangat lusuh, pakaiannya kotor dan sobek.
Ada beberapa anak yang memasang wajah ceria dan bermain bersama teman-temannya,
tetapi mataku sekarang terfokus kepada seorang perempuan kecil yang kira-kira
umurnya 6-7 tahun yang sedang duduk di pinggiran toko sendirian. Wajahnya
terlihat murung. Aku segera menghampirinya. “Hai.” Sapaku sambil tersenyum dan
jongkok di depannya.
Gadis kecil itu hanya menatapku
sekilas dan tak berkata apa pun.
Aku sesegera mungkin mengambil
sesuatu di dalam tasku, dan saat itu pula aku baru tersadar bahwa diary-ku
tertinggal di sekolahan. Shit. Apa
aku harus mengambilnya ke sekolah? Aku rasa tidak perlu. Toh sore-sore begini
tidak ada yang akan mengambilnya. Aku menatap anak kecil tersebut lalu
mengambil satu batang coklat yang aku temukan di lokerku siang tadi dari tasku.
“Kamu mau ini?” tanyaku sambil tersenyum dan mengulurkan tanganku.
Gadis kecil itu hanya mengamati
coklat tersebut, lalu mengambilnya. “Terima kasih.”
Aku tersenyum. Lalu bertanya, “siapa
namamu?”
“Vera.” Jawabnya sambil memakan
coklat tersebut.
“Kenapa kamu nggak gabung sama
temen-temen kamu?”
“Mereka jahat. Mereka mengambil
bunga hasil mengamen yang seharusnya aku berikan kepada ibu. Mereka
menertawakanku kenapa aku meletakkannya di atas batu nisan kuburan ibu.” Jawab Vera
tanpa berhenti mengunyah coklatnya.
Aku termenung. Aku teringat
tentang bunga mawar putih yang ada di loker tadi siang. Kebetulan hari ini aku
merasa aku ingin sekali membawa bunga mawar putih itu pulang, tidak seperti bunga
lainnya yang aku buang ke tong sampah. Aku
memang menyukai bunga mawar putih itu, tapi Vera mungkin akan lebih
senang jika aku memberikannya untuknya. Aku membuka tasku, lalu mengulurkan
bunga mawar putih itu pada Vera. “Untuk kamu.”
Vera tersenyum. “Untuk aku?”
Tanpa ragu ia mengambil bunga tersebut.
“Jangan sedih lagi,” ucapku
sambil tersenyum.
Aku hanya diam sambil mengamati
Vera. Vera masih sangat terlalu kecil. Tempat yang pantas untuknya bukanlah
jalanan, namun sekolah. Aku mengambil satu batang ranting yang berada tidak
jauh dari tempatku berjongkok, lalu menulis angka 1-10 di tanah hitam bekas
hujan sore ini. “Kamu tahu ini angka berapa?”
Vera menggelengkan kepalanya.
Aku tersenyum. Lalu aku mulai
mengajarinya.
**
“Jadi, udah tahukan 4 + 4
hasilnya berapa?”
Aku menoleh saat sebuah suara
jepretan kamera terdengar dari belakang.
Aku kaget. Max. “Loh, kok kamu ada di sini? Motret aku ya?”
Max tersenyum. “Nggak sengaja,”
jawabnya acuh tak acuh. “Kamu ngapain bawa ranting kayak gitu terus nulis
angka-angka nggak jelas?”
“Kok kepo? Ngajarin anak kecil
nih. Namanya Vera.” Ucapku sambil memperkenalkan Vera pada Max.
“Halo Vera.” Sapa Max sambil
tersenyum dan melambaikan tangan.
Vera hanya diam saja dan menatap
Max dengan tatapan aneh. Rasanya aku ingin tertawa.
Max mengamati bunga mawar putih
yang Vera bawa dengan tatapan bingung. “Itu, bunga mawar putih, dari kamu Fi?”
tanya Max.
“Kalo iya kenapa?”
“Kenapa kamu bawa pulang? Aku
pikir kamu buang ke tong sampah.” Ucap Max sambil mengangkat salah satu
alisnya.
“Aku suka aja sama bunga mawar
putih,” Jawabku sambil tersenyum. “Dan ternyata nggak cuma aku doang yang suka mawar
putih. Vera juga.”
**
Hari yang melelahkan. Diary pake
ketinggalan di sekolah lagi.
Aku meletakkan tasku di tempat
tidur. Lalu menatap wajahku di kaca. Rambut hitamku berantakkan. Terlihat lesu
seperti biasa. Ya, akhir-akhir ini aku memang terlihat lesu.
Aku mulai membandingkan diriku
dengan Yosie. Yosie memang cantik,
selalu ceria. Tidak sepertiku. Yosie yang aktif kegiatan sekolah, pintar, dan..
dan yang pasti Yosie dan aku adalah spesies yang berbeda. Apa aku harus berubah
menjadi Yosie? Astaga. Aku jadi teringat aku menuliskan kata-kata ini di
diaryku yang tertinggal di sekolah. Shit.
**
Aku berjalan melalui gerbang
sekolah seperti biasanya. Matahari lumayan bersinar cerah hari ini, namun tidak
secerah suasana hatiku.
Aku mulai melalui lorong sekolah.
Dan aku bertanya-tanya kenapa semua orang hari ini menatapku dengan tatapan
aneh. Ada apa denganku? Aku tidak seperti Yosie? Tentu saja.
Aku mengamati gerombolan anak
yang sedang mengamati mading sekolah. Dan saat aku melalui gerombolan itu,
beberapa anak sempat meneriakan namaku. “Eh ada Fiona tuh.” “Dia udah tahu
belum ya?” “Kasian, tapi kok ya dia kayak gini.”
“APAAN SIH?” bentakku kepada
beberapa anak yang mengumpul di mading. Aku mendorong beberapa anak untuk dapat
melihat isi mading sekolah. SHIT. Aku
kaget. Siapa yang melakukan ini semua?
Beberapa potongan diary-ku yang
tertinggal di sekolah, sekitar 10 lembar.. terpampang di mading sekolah. Yang
paling membuatku marah adalah judul mading sekolah hari ini adalah : “KETIKA
FIONA BELUM BISA MOVE ON DARI DERREN...” di 10 lembar halaman diaryku itu
bertuliskan tentang aku yang masih menyukai Derren, tentang aku yang masih suka
melihat Derren dari jauh, tentang aku yang merasa ingin merubah diriku, tentang
aku yang iri dengan Yosie.
“HAHAHAHA!” suara tawa
menyeramkan datang dari arah belakang. Aku menoleh. Yosie. “Gimana, Fi?”
Aku marah. Aku benar-benar marah.
Apalagi aku melihat Derren berdiri di samping Yosie, walaupun raut wajah Derren
tidak menunjukan wajah senang. Aku tak bisa memperdiksi wajah Derren. Tapi
rasanya sekarang aku ingin berlari dan menangis....... dan aku memang
melakukannya.
**
Aku menangis di taman sekolah
sebelum pelajaran dimulai. Aku rasanya ingin keluar dari sekolah ini. Aku
memang sudah tidak punya muka. Apakah kamu tahu rasanya saat kau belum bisa
melupakan rasa sakit hatimu ditinggal seseorang dan semua orang menertawakanmu?
Aku tahu.
Tiba-tiba seseorang menjulurkan
tangannya dengan sebuah tisu digenggaman. Lagi-lagi Max. Kenapa ia selalu
muncul tiba-tiba?
Aku mengambil tisu dari
genggamannya. Aku tak ingin bicara. Tidak ingin. Mungkin Max sudah tahu
mengenai mading sekolah, dan mungkin sekarang ia ingin menertawakanku. Tertawa
saja. Tertawakan.
7 menit kemudian...
Ia tak tertawa. Oh, aku salah.
Tapi tidak ada percakapan di antara kami saat itu. Mungkin ia terlalu sibuk
melihatku menangis. Tapi ia masih... di sini. “Apa yang kamu mau?” tanyaku pada
akhirnya.
Max menoleh ke arahku, lalu
berkata. “Hanya memberimu sesuatu, dan ingin berkata bahwa kamu jangan
bersedih. Seperti apa yang kamu katakan kepada anak kecil kemarin.”
**
Hari ini aku tidak ingin melihat
Derren. Tapi kenyataannya aku melihatnya.
Dia dengan jaket abu-abunya.
Entahlah apa reaksinya saat kejadian pada mading sekolah kemarin. Aku rasanya
ingin menendang wajahnya.
Aku sakit hati, tapi gengsi. Aku malu, tapi
aku rindu.
Aku melihatnya di kantin sekolah,
saat itu aku sedang duduk bersama Klara dan Jesica. Derren hanya menatapku
beberapa detik, lalu membuang muka.
Oh, Derren. Aku membencimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar