Hari ini, aku terbebas dari ujian tengah semester. Puji
Tuhan.
Aku membuka lokerku. Isinya biasa; beberapa bunga, coklat
dan surat. Di antara banyak hal tersebut, sesuatu yang paling menarik
perhatianku adalah bunga mawar putih. Bunga mawar putih itu terlihat sederhana,
tidak seikat namun hanya satu helai. Walaupun begitu, bunga tersebut terlihat
manis. Sebenarnya, setiap hari ada sebuah mawar putih yang berada dalam lokerku
entah dari siapa setelah aku dan Derren putus hubungan. Sebelum aku jadian
dengan Derren, dulu, bunga mawar putih itu selalu mengisi lokerku, tapi saat
aku berhubungan dengan Derren, tidak lagi.
Aku bersiap-siap membuang barang-barang tak penting tersebut
yang mengisi lokerku ke tong sampah. Hingga akhirnya seseorang menahanku. “Kenapa
dibuang?”
Aku menoleh. Oh, Max. “Menuh-menuhin loker.” Tidak. Aku
berbohong.
“Oh, buang aja.” Ucap Max santai.
Aku menatap Max dengan ragu, aku menjadi tak enak karena Max
mendapatiku berbuat seperti ini.
“Kenapa gak jadi dibuang?”
Aku menyodorkan dua batang coklat putih pada Max, salah satu
coklat yang aku temukan di lokerku. “Untukmu.”
Max menerimanya dengan acuh tak acuh. “Oke, makasih.”
Kemudian aku membuang benda-benda tak penting itu ke dalam
tong sampah. Tapi yang membuatku heran, Max masih berdiri di sampingku.
“Ada apa?” tanya Max saat ia mendapatiku melirik ke arahnya.
“Kamu yang ada apa. Kenapa masih di sini?”
Max mengangkat bahunya. “Makan coklatnya yuk. Di taman.”
**
“Coklat putihnya enak ya,” gumam Max sambil duduk di bangku
taman sekolah sebelahku. Ia terlihat lahap memakan coklat putih tersebut.
“Iya,” ucapku sambil memakan coklat putih. “Eh, kamu dulu
anak smp 24 ya?”
Max menatapku dan berhenti
mengunyah coklat putih sejenak. “Oh? kamu ternyata tahu aku. Aku pikir kamu gak
tahu aku anak smp 24,” Ada jeda sedikit saat Max menatapku.
“Iya.. aku tahulah.” Gumamku sambil
tersenyum. “Kok kita bisa ketemu lagi di sekolah ini ya?”
“Aku harap kamu nggak bosen jadi
adik kelasku selama 6 tahun.” Ucap Max acuh tak acuh.
“Semoga,” jawabku.
Aku memandang pemandangan di
depanku. Taman sekolah hari ini tidak begitu ramai karena sehabis hujan.
Entahlah, aroma tanah sehabis hujan tercium sangat nyaman dihidungku. Terkadang
aku benci hujan, karena saat hujan aku
selalu ingat Derren. Aku benci hujan. Tapi aku suka hujan. “Kenapa akhir-akhir
ini, setelah ada hujan tak ada pelangi?”
tanyaku spontan.
Max melirik ke arahku. “Sayangnya,
aku bukan anak IPA.” Jawab Max singkat. Aku hanya berdeham tidak jelas hingga
akhirnya Max mulai membuka mulutnya lagi. “aku sering melihatmu saat kau masih
berada di 24.”
“Aku juga,” jawabku. “Aku juga
sering melihatmu.”
Max tersenyum. “Tapi saat itu aku
belum kenal kamu.” Ucapnya. “Boleh aku tahu, kenapa kamu membuang semua hadiah
yang ada di lokermu?”
Aku bingung harus menjawab apa.
Tapi rasanya aku ingin membakar semua barang yang diberikan oleh orang tidak
jelas yang berada di loker. Bisa dibilang itu semua pelampiasan rasa
kekesalanku pada Derren. “Aku hanya.. aku.. aku nggak suka. Maksudku, dulu
Derren adalah salah satu dari pengirim hal-hal bodoh di dalam lokerku. Kami
jadian. Lalu dia memutuskanku.”
“Itu kedengarannya nggak adil.” Jawab
Max secara spontan yang membuatku menoleh.
“Mungkin semua yang mereka kasih
ke dalem lokerku, dan isi surat-surat yang nggak bermutu itu semuanya bullshit
kali ya.” Ucapku sambil memakan coklat putihku. “Aku pernah baca surat-surat
mereka, mereka bilang mereka suka aku. Tapi mungkin itu hanya sekedar suka,
maksudku. Mereka Cuma suka aku karena fisik, bukan karena hati.”
“Kenapa kamu bisa ngomong kayak
gitu?”
“Dulu, Derren bilang dia
menyukaiku sejak pandangan pertama. Dia pernah janji nggak akan meninggalkanku.
Pandangan pertama. Dia berarti suka aku karena dari fisikku. Setelah dia kenal
aku? Dia berubah drastis. Dia bilang kami nggak cocok, padahal dia nggak sadar
dia udah bikin aku benar-benar jatuh cinta.” Kataku panjang lebar.
“Karena berjanji tidak akan
pernah meninggalkan seseorang adalah bullshit yang paling besar yang pernah aku
dengar. “ Tambah Max. Aku mengangguk setuju. “Tapi, kamu yakin semua kayak
gitu?” Max menaikkan sebelah alisnya.
“Beberapa hari yang lalu aku
sempat dilabrak seorang cewek. Satu angkatan denganmu, Max.” Ujarku sambil
menatap Max. “Saat itu aku sedang dekat dengan seorang pria, aku bermaksud
untuk melupakan Derren. Tapi aku kaget, setelah tahu pria itu sudah punya
pacar.”
Max hanya mengangguk-angguk. “Aku
mengerti.”
**
Hari ini adalah hari yang suram.
Terkadang aku berharap bila aku
tidak bertemu Derren lagi untuk selama-lamanya, meskipun itu mustahil karena
kami satu sekolah. Akhir-akhir ini aku
sering melihat Derren dari jauh. Memperhatikannya berjalan dari balkon sekolah,
duduk di kantin, bermain bola, dan lainnya. Dan setiap aku melihat Derren,
satu-satunya hal yang ada di benakku adalah : Kenapa perasaan seseorang bisa berubah secepat itu?
Dan hal yang paling menyebalkan
lagi adalah, aku sama sekali tidak pernah melihat Derren mencuri pandang ke
arahku lagi. Mungkin ia benar-benar sudah lupa. Dalam hatiku yang paling dalam,
aku masih menginginkannya berada di sisiku. Apa aku harus berubah?
“Aku berlebihan nggak, Klar?”
tanyaku pada Klara yang sedang istirahat bermain basket.
Klara mengambil minumnya,
meneguknya perlahan kemudian ia letakkan di sebelahnya. “Banget,” jawabnya acuh
tak acuh. “Kenapa nggak bisa lupa? Dia bisa lupain kamu, kenapa kamu nggak?”
“Dia latihan sepak bola nggak ya
hari ini?” tanyaku spontan sambil melamun. “Dia nggak nge-line aku lagi nih.”
Klara menggelengkan kepalanya. “Lama-lama
kamu kayak orang gila, ya.”
Aku melamun sampai akhirnya aku
melihat Derren lewat di depanku bersama dengan Yosie. Aku tahu mereka berdua memang berteman dekat, mereka sering bersama karena
alasan tugas. Namun entahlah, kali ini aku cemburu melihat mereka berjalan berdua.
Walaupun aku tak ada hak untuk cemburu.
Klara menyenggolku. “Tuh,”
gumamnya. “Sabar ya.”
“Biasa aja.” Aku berbohong.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar