Kamis, 20 November 2014

love first sight 2



Hari ini, aku terbebas dari ujian tengah semester. Puji Tuhan.
Aku membuka lokerku. Isinya biasa; beberapa bunga, coklat dan surat. Di antara banyak hal tersebut, sesuatu yang paling menarik perhatianku adalah bunga mawar putih. Bunga mawar putih itu terlihat sederhana, tidak seikat namun hanya satu helai. Walaupun begitu, bunga tersebut terlihat manis. Sebenarnya, setiap hari ada sebuah mawar putih yang berada dalam lokerku entah dari siapa setelah aku dan Derren putus hubungan. Sebelum aku jadian dengan Derren, dulu, bunga mawar putih itu selalu mengisi lokerku, tapi saat aku berhubungan dengan Derren, tidak lagi.
Aku bersiap-siap membuang barang-barang tak penting tersebut yang mengisi lokerku ke tong sampah. Hingga akhirnya seseorang menahanku. “Kenapa dibuang?”
Aku menoleh. Oh, Max. “Menuh-menuhin loker.” Tidak. Aku berbohong.
“Oh, buang aja.” Ucap Max santai.
Aku menatap Max dengan ragu, aku menjadi tak enak karena Max mendapatiku berbuat seperti ini.
“Kenapa gak jadi dibuang?”
Aku menyodorkan dua batang coklat putih pada Max, salah satu coklat yang aku temukan di lokerku. “Untukmu.”
Max menerimanya dengan acuh tak acuh. “Oke, makasih.”
Kemudian aku membuang benda-benda tak penting itu ke dalam tong sampah. Tapi yang membuatku heran, Max masih berdiri di sampingku.
“Ada apa?” tanya Max saat ia mendapatiku melirik ke arahnya.
“Kamu yang ada apa. Kenapa masih di sini?”
Max mengangkat bahunya. “Makan coklatnya yuk. Di taman.”
**
“Coklat putihnya enak ya,” gumam Max sambil duduk di bangku taman sekolah sebelahku. Ia terlihat lahap memakan coklat putih tersebut.
“Iya,” ucapku sambil memakan coklat putih. “Eh, kamu dulu anak smp 24 ya?”
Max menatapku dan berhenti mengunyah coklat putih sejenak. “Oh? kamu ternyata tahu aku. Aku pikir kamu gak tahu aku anak smp 24,” Ada jeda sedikit saat Max menatapku.
“Iya.. aku tahulah.” Gumamku sambil tersenyum. “Kok kita bisa ketemu lagi di sekolah ini ya?”
“Aku harap kamu nggak bosen jadi adik kelasku selama 6 tahun.” Ucap Max acuh tak acuh.
“Semoga,” jawabku.
Aku memandang pemandangan di depanku. Taman sekolah hari ini tidak begitu ramai karena sehabis hujan. Entahlah, aroma tanah sehabis hujan tercium sangat nyaman dihidungku. Terkadang  aku benci hujan, karena saat hujan aku selalu ingat Derren. Aku benci hujan. Tapi aku suka hujan. “Kenapa akhir-akhir ini, setelah ada hujan tak ada pelangi?”  tanyaku spontan.
Max melirik ke arahku. “Sayangnya, aku bukan anak IPA.” Jawab Max singkat. Aku hanya berdeham tidak jelas hingga akhirnya Max mulai membuka mulutnya lagi. “aku sering melihatmu saat kau masih berada di 24.”
“Aku juga,” jawabku. “Aku juga sering melihatmu.”
Max tersenyum. “Tapi saat itu aku belum kenal kamu.” Ucapnya. “Boleh aku tahu, kenapa kamu membuang semua hadiah yang ada di lokermu?”
Aku bingung harus menjawab apa. Tapi rasanya aku ingin membakar semua barang yang diberikan oleh orang tidak jelas yang berada di loker. Bisa dibilang itu semua pelampiasan rasa kekesalanku pada Derren. “Aku hanya.. aku.. aku nggak suka. Maksudku, dulu Derren adalah salah satu dari pengirim hal-hal bodoh di dalam lokerku. Kami jadian. Lalu dia memutuskanku.”
“Itu kedengarannya nggak adil.” Jawab Max secara spontan yang membuatku menoleh.
“Mungkin semua yang mereka kasih ke dalem lokerku, dan isi surat-surat yang nggak bermutu itu semuanya bullshit kali ya.” Ucapku sambil memakan coklat putihku. “Aku pernah baca surat-surat mereka, mereka bilang mereka suka aku. Tapi mungkin itu hanya sekedar suka, maksudku. Mereka Cuma suka aku karena fisik, bukan karena hati.”
“Kenapa kamu bisa ngomong kayak gitu?”
“Dulu, Derren bilang dia menyukaiku sejak pandangan pertama. Dia pernah janji nggak akan meninggalkanku. Pandangan pertama. Dia berarti suka aku karena dari fisikku. Setelah dia kenal aku? Dia berubah drastis. Dia bilang kami nggak cocok, padahal dia nggak sadar dia udah bikin aku benar-benar jatuh cinta.” Kataku panjang lebar.
“Karena berjanji tidak akan pernah meninggalkan seseorang adalah bullshit yang paling besar yang pernah aku dengar. “ Tambah Max. Aku mengangguk setuju. “Tapi, kamu yakin semua kayak gitu?” Max menaikkan sebelah alisnya.
“Beberapa hari yang lalu aku sempat dilabrak seorang cewek. Satu angkatan denganmu, Max.” Ujarku sambil menatap Max. “Saat itu aku sedang dekat dengan seorang pria, aku bermaksud untuk melupakan Derren. Tapi aku kaget, setelah tahu pria itu sudah punya pacar.”
Max hanya mengangguk-angguk. “Aku mengerti.”
**
Hari ini adalah hari yang suram.
Terkadang aku berharap bila aku tidak bertemu Derren lagi untuk selama-lamanya, meskipun itu mustahil karena kami  satu sekolah. Akhir-akhir ini aku sering melihat Derren dari jauh. Memperhatikannya berjalan dari balkon sekolah, duduk di kantin, bermain bola, dan lainnya. Dan setiap aku melihat Derren, satu-satunya hal yang ada di benakku adalah : Kenapa perasaan seseorang bisa berubah secepat itu?
Dan hal yang paling menyebalkan lagi adalah, aku sama sekali tidak pernah melihat Derren mencuri pandang ke arahku lagi. Mungkin ia benar-benar sudah lupa. Dalam hatiku yang paling dalam, aku masih menginginkannya berada di sisiku. Apa aku harus berubah?
“Aku berlebihan nggak, Klar?” tanyaku pada Klara yang sedang istirahat bermain basket.
Klara mengambil minumnya, meneguknya perlahan kemudian ia letakkan di sebelahnya. “Banget,” jawabnya acuh tak acuh. “Kenapa nggak bisa lupa? Dia bisa lupain kamu, kenapa kamu nggak?”
“Dia latihan sepak bola nggak ya hari ini?” tanyaku spontan sambil melamun. “Dia nggak nge-line aku lagi nih.”
Klara menggelengkan kepalanya. “Lama-lama kamu kayak orang gila, ya.”
Aku melamun sampai akhirnya aku melihat Derren lewat di depanku bersama dengan Yosie. Aku tahu mereka berdua memang  berteman dekat, mereka sering bersama karena alasan tugas. Namun entahlah, kali ini aku cemburu melihat mereka berjalan berdua. Walaupun aku tak ada hak untuk cemburu.
Klara menyenggolku. “Tuh,” gumamnya. “Sabar ya.”
“Biasa aja.” Aku berbohong.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar