Aku merasa akhir-akhir ini aku
semakin dekat dengan Max. Entahlah, ia memang teman yang baik. Sahabat yang
baik malah. Kami sering menghabiskan waktu berdua, misalnya saat aku memintanya
untuk mengajariku pelajaran ekonomi karena ia memang anak IPS, menonton film
yang sama walaupun selera fim kami berbeda (ia mengajakku untuk menonton film
horror, aku bilang aku tidak suka film horror kalau aku menonton sendirian.
Tapi berhubungan kami nonton film horrornya berdua, jadi tidak masalah.), ke
toko buku bersama, dll. Dan satu lagi, ia sama sekali tidak masalah dengan
sifatku yang suka tertawa kencang, sedikit-sedikit merengek, dan lainnya. Ia
bukan Derren.
Tbh, aku senang berada di dekatnya karena bersamanya—aku bisa
menjadi diriku sendiri.
“Kamu tahu, kamu nggak perlu jadi
orang lain.” Kata Max sambil memilah-milah buku yang ada di toko buku.
Aku mengalihkan pandanganku dari
sebuah novel terjemahan yang berada digenggamanku. “Kenapa?”
“Kalau kamu pengen ketemu jodoh
sejatimu, cukup tunggu dan jadi diri sendiri aja. Nggak perlu jadi orang lain.”
Cetusnya. “Karena kalau seseorang benar-benar mencintai kamu, ia akan menerima
kamu apa adanya. Dan kamu nggak harus berubah.. kecuali berubah menjadi lebih
baik jika seseorang itu mempunyai sifat yang buruk. Menurutku, kamu baik kok.
Kamu nggak perlu berubah.” Max masih sibuk memilah-milah buku.
Aku mengangguk-angguk menyiyakan.
“Jadi, Derren bukan jodoh sejatiku?”
“Menurut kamu, Derren bisa
menerima kamu apa adanya?”
Ada jeda sebentar saat itu hingga
akhirnya aku menggeleng-gelengkan kepalaku. “Siapa ya, yang kira-kira bisa
menerima aku apa adanya?”
**
Aku membuka lokerku siang itu.
Isinya masih sama. Setiap hari. Dan entah dari siapa.
“Siapa yang kirim bunga mawar
mawar merah itu?” tanya Max yang sedang berada di sebelahku.
“Nggak tahu. Tapi aku tahu siapa
pengirim coklat ini.” Aku mengangkat satu kotak coklat. “Dari Greg.”
“Oh?” gumam Max.
“Dia tidak hanya mengirimkan
coklat ini di lokerku, namun juga di loker Jeane. Aku tak paham apa maksudnya.
Mungkin dia sedang ingin berbagi coklat?” Aku menutup lokerku lalu berjalan
keluar. “Sejujurnya aku penasaran siapa orang yang setiap hari mengirim mawar
putih itu di lokerku.”
“Seandainya kamu bisa memilih
siapa orang yang mengirimi mawar putih itu, siapa yang kamu inginkan?”
Aku menarik nafasku, lalu
menghembuskannya perlahan. “Derren.” Aku menjawab jujur.
**
“Aku ke toilet dulu ya. Titip
kamera sama tasku.” Ucap Max, lalu
berjalan cepat ke belakang.
Ya, sekarang kami sedang berada
di sebuah kafe yang tidak jauh dari sekolah. Aku menggangguk sambil menyesap
minumanku yang baru saja aku pesan. “Jangan lama-lama.”
Karena bosan ditinggal sendirian,
aku iseng membuka hasil potretan Max di kameranya. Mataku melebar kaget saat
tersadar bahwa mayoritas hasil potretan Max adalah diriku. Bukan foto diriku
akhir-akhir ini saja, namun juga diriku bertahun-tahun yang lalu saat masih
berada di SMP. Foto ini jelas di ambil dari jarak yang lumayan jauh, tapi aku
bisa mengenali bahwa itu adalah diriku. Aku tak menyangka ternyata dulu Max
sering memperhatikanku.
Tiba-tiba saja, dikeadaan seperti
ini ponsel Max yang berada di tasnya berbunyi. Aku pun merogoh tas Max, namun
pencarianku terhenti saat menemukan sebuah kertas kuning yang ternyata adalah
sebuah nota pembelian sebuah bunga mawar putih. Tidak salah lagi, ternyata
Max...
Aku masih kaget dan tercengang,
membiarkan nada dering ponsel Max berbunyi hingga akhirnya Max muncul dari
toilet.
“Hei?” sapanya bingung, namun
kaget saat melihatku membaca sebuah kertas nota berwarna kuning.
“Kamu pengirim bunga mawar putih
di lokerku? Kamu salah satu dari mereka?” Pertanyaan itu spontan keluar dari
mulutku.
Max terdiam. Aku tahu ia tidak
bisa berkata apa-apa.
Aku berdiri di depan Max, lalu
berkata, “Kenapa kameramu penuh dengan fotoku? Apa maksudmu?!” Aku tidak tahu
kenapa, tapi aku mengucapkannya dengan nada tinggi. Aku marah tanpa sebuah
alasan yang normal. Aku marah.
Aku bisa melihat raut wajah Max
berubah. Ia seperti ingin mengucapkan sesuatu yang ingin ia ucapkan tetapi
lidahnya kelu. “Fiona..” ucapnya lirih. “Aku memang sejak lama tertarik padamu
dari SMP dan iya.. Aku si pengirim bunga mawar putih itu..”
Aku menyipitkan mataku kepada
Max. Aku tak tau, tapi rasanya jantungku berdetak dua kali lebih kencang.
“Aku minta maaf, aku menyembunyikannya.”
Ucap Max. “Tapi saat itu aku hanya tetarik, kamu tentu tahu apa bedanya tertarik
dan cinta. Namun nggak yang bisa tahu, kalau kenyataannya aku semakin tertarik
kepadamu setelah aku mengenalmu, dan rasa tertarik itu berubah menjadi.....”
“Stop!” ucapku sambil mengambil
tasku dan keluar dari kafe itu.
**
Sejak kejadian itu semuanya
berubah. Tidak ada lagi mawar putih di lokerku. Aku tidak lagi dekat dengan
Max. Aku pikir kami dapat berteman dengan normal tanpa ada salah satu pihak
yang jatuh cinta. Sejak saat itu pula aku sering membuang muka dengan Max saat
kami berdua berpapasan, sedangkan Max ia lebih memilih untuk pura-pura tidak
melihat.
“Lihat apa?” Tanya Jesica yang
sedang duduk di meja kantin di sebelahku.
Aku terus mengaduk-aduk
minumanku. Aku mengalihkan pandanganku dari Max seketika dan menoleh ke arah
Jesica. “Sudah dua minggu.” Aku menghela nafasku.
“Rindu dengan Max?”
Aku benci menjawab iya. Tapi
kenyataannya memang iya. Oleh karena itu aku lebih memilih diam dan tak
menjawab.
“Sebenernya, kamu itu kenapa? Jangan
trauma dengan cowok dong. Nggak semua kayak gitu.” Ucap Jesica sambil menyesap
minumku tanpa izinku.
“Aku cuma kaget.” Jawabku singkat.
“Dengar, mungkin Max adalah salah
satu orang yang mengirim sesuatu di lokermu. Mungkin apa yang dilakukan Max
sama kayak apa yang Derren pernah lakuin ke kamu. Tapi jujur, selama kamu
mengenal Max.. apa Max sama kayak Derren?”
“Nggak. Mereka beda.” Aku menjawab
jujur.
“Jadi, apa langkah selanjutnya?”
**
Jujur saja, aku sudah lelah jika
setiap hari harus membuang muka dan pura-pura tidak melihat saat berpapasan
dengan Max. Aku lelah merindukan saat-saat tertawa bersamanya, bercanda, dan
lainnya. Aku lelah merindukan senyumnya, aku lelah merindukan suaranya, aku
lelah merindukan semua yang ada di dalam dirinya.
Dan baru aku sadari sesuatu, saat
kamu kehilangan seseorang.. kamu baru sadar bahwa orang itu terlalu berharga
untukmu.
Jadi sudah kuputuskan hari ini,
aku akan berbicara padanya.
“Max!” sahutku saat melihat dia
sedang berjalan di taman sekolah.
Ia menoleh, wajahnya lesu.. tapi
aku bisa melihat ada sebuah kekagetan dari raut wajahnya.
“Aku ingin minta maaf.”
Max menelan ludahnya. Ia
menatapku. Ya, aku merindukan tatapan itu. “Untuk apa?”
Aku menghela nafasku. Aku bingung
harus memulai dari mana. Ini mungkin bukan saat yang tepat. Berdiri di tengah
taman dengan beberapa orang yang berlalu lalang. “Untuk semuanya. Untuk sifatku
yang tiba-tiba saja marah sama kamu. Aku minta maaf ya, aku.. aku kangen kamu.”
Max tersenyum saat mendengar kata
terakhir yang aku ucapkan. “Yang terakhir boleh denger sekali lagi?”
Aku menghela nafasku lagi, aku
tersenyum, namun mataku menahan air mata. “Aku rindu kamu.”
Max memelukku tiba-tiba. “Kenapa?”
“Karena aku juga suka sama kamu.”
Kami berpelukan. Kami bahagia.
Max memang bukan Derren, dan aku bahagia karena itu. Maxlah yang mengajariku
agar tetap menjadi diriku sendiri, dan Max juga yang bisa menerima aku apa
adanya. Max mengajariku, jika seseorang benar-benar mencintaimu ia akan
menerima dirimu apa adanya. Ia juga mengajariku untuk percaya bahwa cinta pada
pandangan pertama itu tidak ada, namun rasa ketertarikan. Dan rasa ketertarikan
itu dapat berubah menjadi sebuah cinta ketika dapat mengenal satu sama lain. []
Tidak ada komentar:
Posting Komentar