Kamis, 20 November 2014

love first sight



Aku berjalan cepat menuju satu lorong sekolah saat jam istirahat kedua. Derren memintaku untuk menemuinya saat itu juga. Aku tersenyum saat mendapati pria berambut hitam, agak lebih tinggi dari aku, memakai jaket abu-abu sudah duduk di sebuah bangku di dalam lorong tersebut. Derren. “Hai.” Sapaku sambil tersenyum.
Derren menatapku, lalu tersenyum samar. “Duduk aja.”
Aku menurutinya. Aku menatap Derren yang sekarang sedang duduk dengan tatapan kosong. Ia terlihat stress, mungkin karena tugasnya di kelas 12 sudah mulai menumpuk. Aku memakluminya. “Ada apa minta ketemuan di sini?” tanyaku sambil menatapnya.
“Sekarang tanggal berapa sih?” tanya Derren tanpa menatapku. Dia kenapa?
Aku mencoba mengingat-ingat sesuatu. Ulang tahun Derren? Bukan. Aku selalu hafal hari ulang tahunnya. Tanggal jadian aku dengan Derren? Bukan. Sekarang tanggal 7, kami jadian tanggal 1. “Tanggal tujuh?” ucapku spontan.
“Bener,” ucapnya masih tanpa memandang ke arahku. “Wow, kita baru dua bulan jadian.”
“Lebih tujuh hari,” tambahku sambil tersenyum dan menatap Derren walaupun Derren tidak menatap ke arahku, tapi aku sungguh bahagia. Aku bisa duduk di sebelahnya. Berada di sampingnya. Derren memang tampan untukku, aku sangat menyukainya. Mungkin, cinta.
Akhirnya Derren menatap ke arahku, yang akhirnya membuat aku mendongak. “Menurut kamu kita cocok nggak sih?”
Aku menelan ludah. Apa maksudnya? “Maksud kamu apa ngomong gitu? Aku seneng kok sama kamu. Aku seneng aku bisa ada di deketmu. Aku seneng, kamu juga punya perasaan yang sama kayak aku. Apa yang salah?”
“Aku...” Derren menatapku tajam. “Fiona, kamu cantik. Kamu.. kamu tahu juga pasti lumayan banyak orang yang suka kamu. Mungkin banyak orang yang suka kamu, melebihi aku.”
Aku sungguh tak percaya Derren berkata seperti itu. “Maksud kamu apa sih? Loh, kamu bilang kamu suka aku? Inget nggak? Kamu dulu pernah bilang, kamu suka sama aku pandangan pertama!”
“Siapa yang bisa tahu, kalau perasaan seseorang bisa berubah dengan berjalannya waktu. Maaf, Fi.” Ucap Derren sedikit menyesal, tapi aku bisa melihat sebuah kelegaan di wajahnya. “Kita putus ya.”
Aku ingin menangis. Derren sialan. Kurang ajar. “MAKSUD KAMU APA SIH?! KOK GITU?!” Aku memang sengaja bernada tinggi, untuk menghindari air mataku yang mulai jatuh. Aku tidak suka menangis, karena menangis di depan Derren bukan sesuatu yang berguna. Aku lebih suka marah di depannya, karena saat marah, aku dapat mencekiknya kapan saja.
Ada jeda sebentar saat itu. Derren menatapku tajam saat emosiku mulai naik. Aku menarik nafasku, lalu menghembuskannya perlahan. Mencoba tenang. “Apa alasan kamu minta putus?” aku bertanya dengan suara lirih yang di baliknya tersimpan emosi yang berkobar.
“Aku gak suka sifatmu. Kamu kayak anak kecil. Kamu suka berlebihan.” Jawabnya. “Jangan drama queen.”
Mata Derren dan mataku saling bertemu. Mata Derren yang menatapku tajam dan serius, mataku yang sedang mencoba menahan air mata. Aku memejamkan mataku, lalu air mataku mengalir begitu saja.
Apa perlu, aku berubah untuk kamu, Derren?
**
...All the time, every day.. There’s nothing I can do baby, to make you go away..
Sudah hampir tiga minggu semenjak aku dan Derren putus hubungan.  Pria yang jaraknya satu tahun lebih tua denganku itu masih belum bisa keluar dari pikiranku.
Aku teringat saat hari itu, Derren berkata bahwa dia mencintaiku. “Aku mencintai kamu semenjak pertama kali bertemu.”  Ucapnya saat itu. Aku masih ingat, jelas sekali. Ia mengatakannya setelah ia memberiku seikat mawar merah. Senyumnya, tawanya, tatapannya. Semuanya indah, hingga akhirnya kini keindahan itu pergi begitu saja.
Aku mulai merasa ada yang salah dari diriku. Derren bilang, ia tidak suka beberapa sifatku. Kalau begitu, haruskah aku menghilangkannya dan menjadi orang lain? Apa harus?
BRUK!
Aku terkaget saat mendapati aku menubruk seorang kakak kelas perempuan yang satu angkatan dengan Derren. “Hati-hati dek kalo jalan! Gak punya mata ya?”
“Maaf.” Kataku sambil menundukkan wajah, kemudian terus berjalan.
Aku berjalan ke arah lokerku. Saat kubuka, ada beberapa surat cinta, coklat dan bunga entah dari siapa. Tapi aku yakin, pengirimnya bukan satu orang. Mungkin aku tahu siapa pengirimnya. Aku jadi teringat beberapa hari yang lalu, seorang perempuan marah-marah kepadaku karena aku dituduh menjadi selingkuhan pacarnya. Yang benar saja.
Aku menatap bunga dan surat cinta itu, lalu aku buang ke tong sampah. Sedangkan coklatnya? Gampang, dapat dibagikan ke teman-temanku. Lama-lama aku tak mengerti kelakuan pria jaman sekarang, sudah punya pacar.. tapi tetap saja menyukai gadis lain. Tidak adakah, satupun pria yang dapat menetapkan hatinya ke satu wanita? Shit.
Aku berjalan ke toilet, lalu pergi ke arah kaca dan membiarkan diriku mengamati seorang gadis berambut terurai dengan mata letih. Ya, itu aku. Aku merasa aku tidak terlalu cantik, sederhana. Masih banyak wanita yang lebih cantik dari aku di sekolah ini. Tapi aku bangga menjadi diriku sendiri, karena aku berbeda. Tapi, apakah aku salah jika aku menjadi diriku sendiri?
Aku ingat saat itu Derren berkata bahwa ia tak suka beberapa hari sifatku. Apakah aku harus mengubah diriku menjadi orang lain agar Derren mau kembali?
Aku mengambil sedikit air dari kran, lalu mencuci wajahku.
**
Setelah dari toilet, aku menuju kelas F102. Hari ini adalah hari ujian tengah semester. Jujur saja, aku belum siap dengan ujian hari ini. Bahasa Pracis. Huft, aku menarik nafasku lalu menghembuskannya perlahan.
Aku memasuki ruangan dengan mata letih, memandangi sekelilingku. “Absen 8 duduk di mana ya?” tanyaku pada Erick yang sedang duduk di bangku paling depan.
“Mana aku tahu.” Jawab Erick singkat tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari buku paket bahasa prancis.
Aku melangkah berkeliling bangku, dan memandang kertas putih di atas meja berharap bertuliskan angka delapan. Pencarianku terhenti pada meja nomor 2 deret ke 2. Aku meletakan tasku lalu duduk di sana.
**
Seseorang mengetuk pintu kelas F102. Seorang pria berambut hitam berantakan, hidung mancung dan kulit sawo matang memasuki ruangan. “Maaf telat, sir.” Ucapnya pada Mr. Dalton sang penjaga ruangan.
“Kenapa terlambat?” tanya Mr. Dalton tegas dan menatap pria itu dengan tajam.
Pria itu mendekati meja Mr. Dalton, menggaruk kepalanya lalu berkata. “Bensin habis. Harus nuntun motor.” Jawabnya santai.
“Sudah ambil surat keterangan?”
Pria itu menyerahkan sehelai kertas putih ke meja Mr. Dalton.
“Bagus. Silakan duduk.”
Pria itu mengangguk, lalu berjalan menuju mejaku. Ia meletakkan tasnya, lalu duduk di sampingku. Oh, ternyata pria itu teman sebangkuku.
Sepanjang ulangan bahasa prancis, pria itu diam saja. Tak ada sedikit pembicaraan di antara kami. Hingga akhirnya aku mulai kesulitan di salah satu soal bahasa prancis. Aku sudah memberi beberapa kode kepada Klara untuk memberiku contekan, tapi Klara tak kunjung peka. Shit.
“Kenapa?” tanya pria itu sambil menatapku.
Aku mendongak. “Cuma nggak bisa ngerjain aja, hehe.” Ucapku malu.
“Nomer berapa? Sini.” Pria itu menarik kertas soalku.
“Tiga puluh tujuh.”
Pria itu mengerutkan dahinya. “Livre jawabannya.”
“Oh, makasih.”
Pria itu hanya mengangguk. Aku melanjutkan mengerjakan soal. Ada jeda panjang saat itu di antara kami hingga kemudian aku selesai mengerjakan soal ke-40. Pria itu memainkan pensil, sedangkan aku hanya diam saja membolak-balik soal yang sudah selesai aku kerjakan. Tiba-tiba pria itu menyodorkan tangannya. “Max. Kamu?”
Aku berhenti membolak-balik soal. Aku menatap tangan pria itu, kemudian wajahnya. Aku tersenyum, lalu menjabat tangannya.
“Fiona.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar