Aku berjalan cepat menuju satu lorong sekolah saat jam
istirahat kedua. Derren memintaku untuk menemuinya saat itu juga. Aku tersenyum
saat mendapati pria berambut hitam, agak lebih tinggi dari aku, memakai jaket
abu-abu sudah duduk di sebuah bangku di dalam lorong tersebut. Derren. “Hai.” Sapaku
sambil tersenyum.
Derren menatapku, lalu tersenyum samar. “Duduk aja.”
Aku menurutinya. Aku menatap Derren yang sekarang sedang
duduk dengan tatapan kosong. Ia terlihat stress, mungkin karena tugasnya di
kelas 12 sudah mulai menumpuk. Aku memakluminya. “Ada apa minta ketemuan di
sini?” tanyaku sambil menatapnya.
“Sekarang tanggal berapa sih?” tanya Derren tanpa menatapku.
Dia kenapa?
Aku mencoba mengingat-ingat sesuatu. Ulang tahun Derren? Bukan.
Aku selalu hafal hari ulang tahunnya. Tanggal jadian aku dengan Derren? Bukan.
Sekarang tanggal 7, kami jadian tanggal 1. “Tanggal tujuh?” ucapku spontan.
“Bener,” ucapnya masih tanpa memandang ke arahku. “Wow, kita
baru dua bulan jadian.”
“Lebih tujuh hari,” tambahku sambil tersenyum dan menatap
Derren walaupun Derren tidak menatap ke arahku, tapi aku sungguh bahagia. Aku
bisa duduk di sebelahnya. Berada di sampingnya. Derren memang tampan untukku,
aku sangat menyukainya. Mungkin, cinta.
Akhirnya Derren menatap ke arahku, yang akhirnya membuat aku
mendongak. “Menurut kamu kita cocok nggak sih?”
Aku menelan ludah. Apa maksudnya? “Maksud kamu apa ngomong
gitu? Aku seneng kok sama kamu. Aku seneng aku bisa ada di deketmu. Aku seneng,
kamu juga punya perasaan yang sama kayak aku. Apa yang salah?”
“Aku...” Derren menatapku tajam. “Fiona, kamu cantik. Kamu..
kamu tahu juga pasti lumayan banyak orang yang suka kamu. Mungkin banyak orang
yang suka kamu, melebihi aku.”
Aku sungguh tak percaya Derren berkata seperti itu. “Maksud
kamu apa sih? Loh, kamu bilang kamu suka aku? Inget nggak? Kamu dulu pernah
bilang, kamu suka sama aku pandangan pertama!”
“Siapa yang bisa tahu, kalau perasaan seseorang bisa berubah
dengan berjalannya waktu. Maaf, Fi.” Ucap Derren sedikit menyesal, tapi aku
bisa melihat sebuah kelegaan di wajahnya. “Kita putus ya.”
Aku ingin menangis. Derren sialan. Kurang ajar. “MAKSUD KAMU
APA SIH?! KOK GITU?!” Aku memang sengaja bernada tinggi, untuk menghindari air
mataku yang mulai jatuh. Aku tidak suka menangis, karena menangis di depan Derren
bukan sesuatu yang berguna. Aku lebih suka marah di depannya, karena saat
marah, aku dapat mencekiknya kapan saja.
Ada jeda sebentar saat itu. Derren menatapku tajam saat
emosiku mulai naik. Aku menarik nafasku, lalu menghembuskannya perlahan.
Mencoba tenang. “Apa alasan kamu minta putus?” aku bertanya dengan suara lirih
yang di baliknya tersimpan emosi yang berkobar.
“Aku gak suka sifatmu. Kamu kayak anak kecil. Kamu suka
berlebihan.” Jawabnya. “Jangan drama
queen.”
Mata Derren dan mataku saling bertemu. Mata Derren yang
menatapku tajam dan serius, mataku yang sedang mencoba menahan air mata. Aku
memejamkan mataku, lalu air mataku mengalir begitu saja.
Apa perlu, aku berubah untuk kamu, Derren?
**
...All the time, every
day.. There’s nothing I can do baby, to make you go away..
Sudah hampir tiga minggu semenjak aku dan Derren putus hubungan.
Pria yang jaraknya satu tahun lebih tua denganku
itu masih belum bisa keluar dari pikiranku.
Aku teringat saat hari itu, Derren berkata bahwa dia
mencintaiku. “Aku mencintai kamu semenjak
pertama kali bertemu.” Ucapnya saat
itu. Aku masih ingat, jelas sekali. Ia mengatakannya setelah ia memberiku
seikat mawar merah. Senyumnya, tawanya, tatapannya. Semuanya indah, hingga
akhirnya kini keindahan itu pergi begitu saja.
Aku mulai merasa ada yang salah dari diriku. Derren bilang,
ia tidak suka beberapa sifatku. Kalau begitu, haruskah aku menghilangkannya dan
menjadi orang lain? Apa harus?
BRUK!
Aku terkaget saat mendapati aku menubruk seorang kakak kelas
perempuan yang satu angkatan dengan Derren. “Hati-hati dek kalo jalan! Gak
punya mata ya?”
“Maaf.” Kataku sambil menundukkan wajah, kemudian terus
berjalan.
Aku berjalan ke arah lokerku. Saat kubuka, ada beberapa
surat cinta, coklat dan bunga entah dari siapa. Tapi aku yakin, pengirimnya
bukan satu orang. Mungkin aku tahu siapa pengirimnya. Aku jadi teringat
beberapa hari yang lalu, seorang perempuan marah-marah kepadaku karena aku
dituduh menjadi selingkuhan pacarnya. Yang benar saja.
Aku menatap bunga dan surat cinta itu, lalu aku buang ke
tong sampah. Sedangkan coklatnya? Gampang, dapat dibagikan ke teman-temanku.
Lama-lama aku tak mengerti kelakuan pria jaman sekarang, sudah punya pacar..
tapi tetap saja menyukai gadis lain. Tidak adakah, satupun pria yang dapat
menetapkan hatinya ke satu wanita? Shit.
Aku berjalan ke toilet, lalu pergi ke arah kaca dan
membiarkan diriku mengamati seorang gadis berambut terurai dengan mata letih.
Ya, itu aku. Aku merasa aku tidak terlalu cantik, sederhana. Masih banyak
wanita yang lebih cantik dari aku di sekolah ini. Tapi aku bangga menjadi
diriku sendiri, karena aku berbeda. Tapi, apakah aku salah jika aku menjadi
diriku sendiri?
Aku ingat saat itu Derren berkata bahwa ia tak suka beberapa
hari sifatku. Apakah aku harus mengubah diriku menjadi orang lain agar Derren
mau kembali?
Aku mengambil sedikit air dari kran, lalu mencuci wajahku.
**
Setelah dari toilet, aku menuju kelas F102. Hari ini adalah
hari ujian tengah semester. Jujur saja, aku belum siap dengan ujian hari ini.
Bahasa Pracis. Huft, aku menarik nafasku lalu menghembuskannya perlahan.
Aku memasuki ruangan dengan mata letih, memandangi
sekelilingku. “Absen 8 duduk di mana ya?” tanyaku pada Erick yang sedang duduk
di bangku paling depan.
“Mana aku tahu.” Jawab Erick singkat tanpa sedikitpun
mengalihkan pandangannya dari buku paket bahasa prancis.
Aku melangkah berkeliling bangku, dan memandang kertas putih
di atas meja berharap bertuliskan angka delapan. Pencarianku terhenti pada meja
nomor 2 deret ke 2. Aku meletakan tasku lalu duduk di sana.
**
Seseorang mengetuk pintu kelas F102. Seorang pria berambut
hitam berantakan, hidung mancung dan kulit sawo matang memasuki ruangan. “Maaf
telat, sir.” Ucapnya pada Mr. Dalton sang
penjaga ruangan.
“Kenapa terlambat?” tanya Mr. Dalton tegas dan menatap pria
itu dengan tajam.
Pria itu mendekati meja Mr. Dalton, menggaruk kepalanya lalu
berkata. “Bensin habis. Harus nuntun motor.” Jawabnya santai.
“Sudah ambil surat keterangan?”
Pria itu menyerahkan sehelai kertas putih ke meja Mr.
Dalton.
“Bagus. Silakan duduk.”
Pria itu mengangguk, lalu berjalan menuju mejaku. Ia meletakkan
tasnya, lalu duduk di sampingku. Oh, ternyata pria itu teman sebangkuku.
Sepanjang ulangan bahasa prancis, pria itu diam saja. Tak
ada sedikit pembicaraan di antara kami. Hingga akhirnya aku mulai kesulitan di
salah satu soal bahasa prancis. Aku sudah memberi beberapa kode kepada Klara untuk
memberiku contekan, tapi Klara tak kunjung peka. Shit.
“Kenapa?” tanya pria itu sambil menatapku.
Aku mendongak. “Cuma nggak bisa ngerjain aja, hehe.” Ucapku malu.
“Nomer berapa? Sini.” Pria itu menarik kertas soalku.
“Tiga puluh tujuh.”
Pria itu mengerutkan dahinya. “Livre jawabannya.”
“Oh, makasih.”
Pria itu hanya mengangguk. Aku melanjutkan mengerjakan soal.
Ada jeda panjang saat itu di antara kami hingga kemudian aku selesai
mengerjakan soal ke-40. Pria itu memainkan pensil, sedangkan aku hanya diam
saja membolak-balik soal yang sudah selesai aku kerjakan. Tiba-tiba pria itu
menyodorkan tangannya. “Max. Kamu?”
Aku berhenti membolak-balik soal. Aku menatap tangan pria
itu, kemudian wajahnya. Aku tersenyum, lalu menjabat tangannya.
“Fiona.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar