Jumat, 27 Juni 2014

Under The Christmas Tree



“Jadi kedai sebelah yang saat itu membuatmu mabuk?” ucap seorang pria yang sedang duduk santai di sebuah kafe bernama Etagen Cafe—sebuah kafe dengan dua lantai dan juga menawarkan tempat duduk di luar, jadi kali ini Aleron lebih memilih untuk duduk di luar bersama seorang gadis di depannya.
    “Ya,” gumam Elise tak membantah, karena itu memang kenyataannya. “Aku tak sengaja oke? Mereka menyediakan menu masakan jerman dan aku tak pernah mencoba masakan jerman sama sekali.” Elise mengangkat bahunya sedikit.
    Aleron mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Elise lekat-lekat lalu berkata, “Kau ini perempuan, kau harus hati-hati dalam memilih sesuatu. Kau tahu?”
    Elise mulai merasakan debaran jantungnya yang sejak tadi memang tak beraturan itu berdebar lebih tak karuan lagi saat menatap pria di depannya. “Kau terdengar seperti Ayahku,” gumam Elise  mengalihkan pembicaraan dan sempat membuat Aleron menarik tubuhnya mundur. “Aku jadi merindukannya, aku tidak sabar ingin bertemu dengannya.”
    Aleron hening sebentar. Pikiran-pikiran yang menyebalkan itu datang lagi bergelayutan dalam pikirannya. Gadis itu akan pergi. Gadis itu akan pergi. Gadis itu akan pergi. Ya Tuhan, apa yang dipikirkannya? Gadis itu hanya akan pergi menemui Ayahnya Natal tahun ini, itu adalah mimpi yang ditunggu-tunggu gadis itu bukan? Lalu kenapa Aleron berpikiran kacau seperti ini? Tenanglah Aleron, dia hanya ingin menghabiskan Natal tahun ini dengan bertemu Ayahnya—bukan pergi selamanya.
    “Aleron,” seru Elise membuyarkan pria yang berada di depannya itu. “Kenapa kau melamun? Pesananmu sudah datang."
    Aleron mendongak sedikit saat ucapan Elise memecahkan lamunannya. Lalu mulai mengaduk-aduk tehnya, kemudian berkata secara tiba-tiba, “Kau yakin akan pergi?”
    Elise mengangkat alisnya, lalu tersenyum kecil. “Ya, kenapa?” tanyanya. “Kau takut kau akan merindukanku?” Elise berkata dengan nada bergurau namun sedikit ada campuran sebuah kegugupan di sana. Elise rasa gurauannya itu terasa sedikit gagal.
    “Kau percaya diri sekali,” bantah Aleron namun dengan nada datar. Berusaha menutupi kegugupannya. Astaga? Apa yang harus ia lakukan?
  “Kau tahu, aku rasa permintaanku sudah dikabulkan. Aku harap permintaanmu juga—merayakan Natal dengan seseorang yang kaucintai. Benar begitu?” Elise meneruskan ucapannya, walau ada rasa nyeri merambat di dadanya. Aleron akan baik-baik saja, dengan atau tanpaku, gumam Elise dalam benaknya.
    “Kurasa tidak,”
    Elise mengangkat alisnya.  “Kenapa?”
    “Karena ia akan pergi.”
Apa? Apa Elise tak salah dengar? Ya Tuhan..  Dan jantung Elise berhenti seketika saat itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar