“Jadi kedai
sebelah yang saat itu membuatmu mabuk?” ucap seorang pria yang sedang duduk
santai di sebuah kafe bernama Etagen Cafe—sebuah kafe dengan dua lantai dan
juga menawarkan tempat duduk di luar, jadi kali ini Aleron lebih memilih untuk
duduk di luar bersama seorang gadis di depannya.
“Ya,” gumam Elise tak membantah, karena itu
memang kenyataannya. “Aku tak sengaja oke? Mereka menyediakan menu masakan
jerman dan aku tak pernah mencoba masakan jerman sama sekali.” Elise mengangkat
bahunya sedikit.
Aleron mencondongkan tubuhnya ke depan,
menatap Elise lekat-lekat lalu berkata, “Kau ini perempuan, kau harus hati-hati
dalam memilih sesuatu. Kau tahu?”
Elise mulai merasakan debaran jantungnya
yang sejak tadi memang tak beraturan itu berdebar lebih tak karuan lagi saat
menatap pria di depannya. “Kau terdengar seperti Ayahku,” gumam Elise mengalihkan pembicaraan dan sempat membuat
Aleron menarik tubuhnya mundur. “Aku jadi merindukannya, aku tidak sabar ingin
bertemu dengannya.”
Aleron hening sebentar. Pikiran-pikiran
yang menyebalkan itu datang lagi bergelayutan dalam pikirannya. Gadis itu akan
pergi. Gadis itu akan pergi. Gadis itu akan
pergi. Ya Tuhan, apa yang dipikirkannya? Gadis itu hanya akan pergi menemui
Ayahnya Natal tahun ini, itu adalah mimpi yang ditunggu-tunggu gadis itu bukan?
Lalu kenapa Aleron berpikiran kacau seperti ini? Tenanglah Aleron, dia hanya ingin menghabiskan Natal tahun ini dengan bertemu
Ayahnya—bukan pergi selamanya.
“Aleron,”
seru Elise membuyarkan pria yang berada di depannya itu. “Kenapa kau melamun? Pesananmu
sudah datang."
Aleron mendongak sedikit saat ucapan Elise
memecahkan lamunannya. Lalu mulai mengaduk-aduk tehnya, kemudian berkata secara
tiba-tiba, “Kau yakin akan pergi?”
Elise mengangkat alisnya, lalu tersenyum
kecil. “Ya, kenapa?” tanyanya. “Kau takut kau akan merindukanku?” Elise berkata
dengan nada bergurau namun sedikit ada campuran sebuah kegugupan di sana. Elise
rasa gurauannya itu terasa sedikit gagal.
“Kau percaya diri sekali,” bantah Aleron
namun dengan nada datar. Berusaha menutupi kegugupannya. Astaga? Apa yang harus
ia lakukan?
“Kau tahu, aku rasa permintaanku sudah
dikabulkan. Aku harap permintaanmu juga—merayakan Natal dengan seseorang yang kaucintai.
Benar begitu?” Elise meneruskan ucapannya, walau ada rasa nyeri merambat di dadanya.
Aleron akan baik-baik saja, dengan atau
tanpaku, gumam Elise dalam benaknya.
“Kurasa tidak,”
Elise
mengangkat alisnya. “Kenapa?”
“Karena ia akan pergi.”
Apa? Apa Elise tak salah dengar? Ya Tuhan.. Dan jantung Elise berhenti seketika saat itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar